27 March 2013

RABIES

rabies



RABIES

Rabies atau biasa disebut penyakit anjing gila adalah penyakit hewan yang disebabkan oleh virus, bersifat akut serta menyerang susunan saraf pusat hewan berdarah panas dan manusia. Rabies bersifat zoonosis artinya penyakit tersebut dapat menular dari hewan ke manusia dan menyebabkan kematian pada manusia.

A. Penyebab
Rabies disebabkan oleh virus rabies yang masuk ke keluarga Rhabdoviridae dan genus Lysavirus. Karakteristik utama virus keluarga Rhabdoviridae adalah hanya memiliki satu utas negatif RNA yang tidak bersegmen. Virus rabies hidup pada beberapa jenis hewan yang berperan sebagai perantara penularan. Spesies hewan perantara bervariasi pada berbagai letak geografis, misalnya untuk daerah Asia, anjing, kucing, kera dan kelelawar menjadi penyebar rabies.

B.  Cara Penularan

Penyakit rabies ditularkan dari hewan ke hewa atau dari hewan ke manusia melalui :
  1. Melalui gigitan dan non gigitan, kontak dengan bahan mengandung virus rabies pada kulit lecet atau mukosa. 
  2. Melalui cakaran oleh kuku hewan penular rabies dapat berbahaya karena binatang menjilati kuku-kukunya. 
  3. Melalui Saliva yang ditempatkan pada permukaan mukosa. 
  4. Ekskreta kelelawar yang mengandung virus rabies cukup untuk menimbulkan bahaya rabies pada mereka yang masuk gua yang terinfeksi dan menghirup aerosol yang diciptakan oleh kelelawar. 
  5. Penularan dari orang ke orang secara teoritis mungkin tetapi kurang terdokumentasi dan jarang terjadi.

C.  Gejala Klinis Rabies Pada Hewan

Gejala rabies pada hewan dari spesies satu ke spesies lainnya dapat sedikit berbeda, namun umumnya pada hewan terbagi dalam tiga tahap (stadium) yaitu :

1. Stadium Prodromal
Stadium prodromal merupakan tahapan awal gejala klinis yang dapat berlangsung antara 2-3 hari. Pada tahap ini akan terlihat adanya perubahan temperamen yang masih ringan pada hewan, yaitu:
  • Hewan mulai mencari tempat-tempat yang dingin/gelap. 
  • Suka menyendiri. 
  • Reflek kornea berkurang. 
  • Pupil melebar dan hewan terlihat acuh terhadap tuannya. 
  • Hewan menjadi sangat perasa dan agresif. 
  • Mudah terkejut dan cepat berontak bila ada provokasi. 
  • Dalam keadaan ini perubahan perilaku mulai diikuti oleh kenaikan suhu badan.
2. Stadium Eksitasi
Stadium eksitasi dapat berlangsung lebih lama daripada stadium prodromal, yaitu 3-7 hari, dengan tanda-tanda :
  • Hewan mulai garang. 
  • Menyerang hewan lain ataupun manusia yang dijumpai dan hipersalivasi. 
  • Dalam keadaan tidak ada provokasi hewan menjadi murung terkesan lelah dan selalu tampak seperti ketakutan.   
  • Hewan mengalami fotopobi atau takut melihat sinar, sehingga bila ada cahaya hewan akan bereaksi secara berlebihan dan tampak ketakutan.
3. Stadium Paralisis
Tahap paralisis ini dapat berlangsung secara singkat, sehingga sulit untuk dikenali atau bahkan tidak terjadi dan langsung berlanjut pada kematian. Pada tahap ini hewan mengalami kesulitan menelan, keluar busa sekitar mulut, suara parau, sempoyongan, akhirnya lumpuh dan mati.

D.  Rabies Pada Anjing

1.  Rabies Ganas
  • Tidak mengenali/menuruti lagi perintah pemilik. 
  • Keluar air liur yang berlebihan.
  • Anjing menjadi ganas, menyerang atau menggit apa saja yang ditemui dan ekor dilekungkan kebawah perut diantara kedua pahanya. 
  • Kejang-kejang kemudian lumpuh, biasanya mati setelah 4-7 hari sejak timbul atau paling lama 12 hari setelah penggigitan.
2.  Rabies Tenang
  • Suka bersembunyi di tempat gelap dan sejuk. 
  • Kejang-kejang berlangsung singkat bahkan sering tidak terlihat. 
  • Mengalami kelumpuhan dan tidak mampu menelan, mulut terbuka serta air liur keluar berlebihan. 
  • Kematian terjadi dalam waktu singkat.
 
E.  Rabies Pada Manusia



Gejala klinis pada manusia dibagi menjadi empat stadium.

1. Stadium Prodromal
Gejala awal yang terjadi sewaktu virus menyerang susunan saraf pusat adalah
perasaan gelisah, demam, malaise, mual, sakit kepala, gatal, merasa seperti terbakar, kedinginan, kondisi tubuh lemah dan rasa nyeri di tenggorokan selama beberapa hari.


2. Stadium Sensoris
Penderita merasa nyeri, rasa panas disertai kesemutan pada tempat bekas luka kemudian disusul dengan gejala cemas dan reaksi yang berlebihan terhadap ransangan sensoris.

3. Stadium Eksitasi
  • Tonus otot-otot akan aktivitas simpatik menjadi meninggi dengan gejala berupa eksitasi atau ketakutan berlebihan, rasa haus, ketakutan terhadap rangsangan cahaya, tiupan angin atau suara keras. Umumnya selalu merintih sebelum kesadaran hilang. Penderita menjadi bingung, gelisah, rasa tidak nyaman dan ketidak beraturan. 
  • Kebingungan menjadi semakin hebat dan berkembang menjadi argresif, halusinasi, dan selalu ketakutan. 
  • Tubuh gemetar atau kaku kejang. 
4. Stadium Paralis
  • Sebagian besar penderita rabies meninggal dalam stadium eksitasi.
  • Kadang-kadang ditemukan juga kasus tanpa gejala-gejala eksitasi, melainkan paresis otot-otot yang bersifat progresif. Hal ini karena gangguan sumsum tulang belakang yang memperlihatkan gejala paresis otot-otot pernafasan.

F.  Pola Penyebaran Rabies

Penularan rabies di lapangan berawal dari suatu kondisi anjing yang tidak dipelihara dengan baik atau anjing liar yang merupakan ciri khas yang ada di perdesaan yang berkembang dan sulit dikendalikan. Suatu kondisi yang sangat kondusif untuk menjadikan suatu daerah dapat bertahan menjadi daerah endemis. Secara alami yang sering terjadi pola penyebaran rabies. Pada umumnya manusia merupakan ”dead end” atau terminal akhir dari korban gigitan. Karena sampai saat ini belum ada kasus manusia menggigit anjing. Baik anjing liar, anjing peliharaan yang menjadi liar maupun anjing peliharaan, setiap saat dapat menggigit manusia. Sementara itu anjing liar, anjing peliharaan yang menjadi liar dapat menggigit satu sama lain. Kalau salah satu diantara anjing yang menggigit tersebut positif rabies, maka akan terjadi kasus-kasus positif rabies yang semakin tinggi.

G.  Pencegaha Dan Pengendalian Rabies

1. Pencegahan
a. Pencegahan Primer
  • Tidak memberikan izin untuk memasukkan atau menurunkan anjing, kucing, kera dan hewan sebangsanya di daerah bebas rabies. 
  • Memusnahkan anjing, kucing, kera atau hewan sebangsanya yang masuk tanpa izin ke daerah bebas rabies. 
  • Dilarang melakukan vaksinasi atau memasukkan vaksin rabies kedaerahdaerah bebas rabies. 
  • Melaksanakan vaksinasi terhadap setiap anjing, kucing dan kera, 70% populasi yang ada dalam jarak minimum 10 km disekitar lokasi kasus. 
  • Pemberian tanda bukti atau pening terhadap setiap kera, anjing, kucing yang telah divaksinasi. 
  • Mengurangi jumlah populasi anjing liar atan anjing tak bertuan dengan jalan pembunuhan dan pencegahan perkembangbiakan. 
  • Anjing peliharaan, tidak boleh dibiarkan lepas berkeliaran, harus didaftarkan ke Kantor Kepala Desa/Kelurahan atau Petugas Dinas Peternakan setempat. 
  • Anjing harus diikat dengan rantai yang panjangnya tidak boleh lebih dari 2 meter. 
  • Anjing yang hendak dibawa keluar halaman harus diikat dengan rantai tidak lebih dari 2 meter dan moncongnya harus menggunakan berangus (beronsong). 
  • Menangkap dan melaksanakan observasi hewan tersangka menderita rabies, selama 10 sampai 14 hari, terhadap hewan yang mati selama observasi atau yang dibunuh, maka harus diambil spesimen untuk dikirimkan ke laboratorium terdekat untuk diagnosa. 
  • Mengawasi dengan ketat lalu lintas anjing, kucing, kera dan hewan sebangsanya yang bertempat sehalaman dengan hewan tersangka rabies. 
  • Membakar dan menanam bangkai hewan yang mati karena rabies sekurang-kurangnya 1 meter.
b. Pencegahan Sekunder
Pertolongan pertama yang dapat dilakukan untuk meminimalkan resiko tertularnya rabies adalah :
  • Mencuci luka gigitan dengan sabun atau dengan deterjen selama 5-10 menit dibawah air mengalir/diguyur. 
  • Kemudian luka diberi alkohol 70% atau Yodium tincture
  • Setelah itu pergi secepatnya ke Puskesmas atau Dokter yang terdekat untuk mendapatkan pengobatan sementara sambil menunggu hasil dari rumah observasi hewan.
Resiko yang dihadapi oleh orang yang mengidap rabies sangat besar oleh karena itu, setiap orang yang digigit oleh hewan tersangka rabies atau digigit oleh anjing di daerah endemic rabies harus sedini mungkin mendapat pertolongan setelah terjadinya gigitan sampai dapat dibuktikan bahwa tidak benar adanya infeksi rabies.

c. Pencegahan Tersier
Tujuan dari tiga tahapan pencegahan adalah membatasi atau menghalangi perkembangan ketidakmampuan, kondisi, atau gangguan sehingga tidak berkembang ke tahap lanjut yang membutuhkan perawatan intensif yang mencakup pembatasan terhadap ketidakmampuan dengan menyediakan rehabilitasi. Apabila hewan yang dimaksud ternyata menderita rabies berdasarkan pemeriksaan klinis atau laboratorium dari Dinas Perternakan, maka orang yang digigit atau dijilat tersebut harus segera mendapatkan pengobatan khusus (Pasteur Treatment) di Unit Kesehatan yang mempunyai fasilitas pengobatan Anti Rabies dengan lengkap.

2. Pengendalian
Untuk mencegah terjadinya penularan rabies, maka anjing, kucing, atau kera dapat diberi vaksin inaktif atau yang dilemahkan (attenuated). Untuk memperoleh kualitas vaksin yang efektif dan efisien, ada beberapa persyaratan yang harus dipenui, baik vaksin yang digunakan bagi hewan maupun bagi manusia, yakni :
  • Vaksin harus dijamin aman dalam pemakaian. 
  • Vaksin harus memiliki potensi daya lindung yang tinggi. 
  • Vaksin harus mampu memberikan perlindungan kekebalan yang lama. 
  • Vaksin arus mudah dalam cara aplikasinya. 
  • Vaksin harus stabil dan menghasilkan waktu kadaluwarsa yang lama. 
  • Vaksin harus selalu tersedia dan mudah didapat sewaktu-waktu dibutuhkan.

REFERENCE

Center Of Desease Control and Preventation, RABIES, diakses pada tanggal 20 Maret 2013,          http://www.cdc.gov/rabies/transmission/index.html

Universitas Sumatra Utara, 2006. PENYAKIT RABIES, diakses pada tanggal 20 Maret 2013,          http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/16929/4/Chapter%20II.pdf

Gambar 1 : http://tedjho.wordpress.com
Gambar 2 : http://pathmicro.med.sc.edu/virol/route.jpg